By Wahyu Setyowati 06 October 2024 08:14

GROBOGAN – Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) Unit Universitas An Nuur melaksanakan kegiatan penyuluhan kesehatan tentang Tuberkulosis (TBC) kepada kelompok ibu-ibu arisan RT 07/RW 01 Kelurahan Kalongan, Kabupaten Grobogan, pada Minggu, 5 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan pengetahuan mengenai Tuberkulosis, mulai dari penyebab, cara penularan, gejala, upaya pencegahan, hingga pentingnya menjalani pengobatan secara teratur sampai tuntas.
Penyuluhan diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan dengan pembukaan oleh panitia serta penyampaian tujuan kegiatan. Sebelum materi diberikan, peserta terlebih dahulu mengerjakan pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal mengenai penyakit Tuberkulosis. Hasil pre-test tersebut menjadi dasar dalam pelaksanaan edukasi sehingga materi yang disampaikan dapat menyesuaikan kebutuhan peserta.

Pada sesi penyampaian materi, tim penyuluh menjelaskan bahwa Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan paling sering menyerang paru-paru. Penularan terjadi melalui percikan dahak yang keluar ketika penderita TBC aktif batuk, bersin, atau berbicara. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengenali gejala sejak dini, seperti batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, demam, keringat malam, penurunan berat badan, dan mudah lelah agar penderita dapat segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain membahas cara penularan dan gejala penyakit, pemateri juga menjelaskan berbagai langkah pencegahan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti menerapkan etika batuk, menggunakan masker ketika mengalami batuk, menjaga kebersihan lingkungan, membuka ventilasi rumah agar sirkulasi udara tetap baik, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya menyelesaikan pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan untuk mencegah terjadinya penularan maupun resistensi obat.
Suasana penyuluhan berlangsung interaktif. Pada sesi diskusi, beberapa peserta mengajukan pertanyaan mengenai cara membedakan batuk biasa dengan gejala Tuberkulosis, kemungkinan penularan kepada anggota keluarga, serta tindakan yang harus dilakukan apabila terdapat anggota keluarga yang mengalami gejala yang mengarah pada TBC. Seluruh pertanyaan dijawab secara langsung oleh pemateri disertai penjelasan yang mudah dipahami sehingga peserta memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai pencegahan dan penanganan penyakit tersebut.

Sebagai bentuk penguatan materi, peserta juga diberikan leaflet yang berisi informasi singkat mengenai Tuberkulosis sehingga dapat dipelajari kembali di rumah. Setelah seluruh materi selesai disampaikan, peserta mengikuti post-test sebagai evaluasi untuk mengetahui peningkatan pemahaman setelah mengikuti penyuluhan. Kegiatan kemudian ditutup dengan penyampaian pesan agar masyarakat tidak memberikan stigma kepada penderita Tuberkulosis, melainkan memberikan dukungan selama menjalani proses pengobatan hingga dinyatakan sembuh.
Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin memahami pentingnya deteksi dini, pencegahan penularan, serta kepatuhan menjalani pengobatan Tuberkulosis. Pengetahuan yang diperoleh selama penyuluhan diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan disampaikan kembali kepada keluarga maupun masyarakat sekitar sebagai upaya bersama dalam mendukung pengendalian Tuberkulosis di Kabupaten Grobogan.